“Antusiasme para petani sudah banyak, bahkan tadi ada salah satu usulan dari teman-teman kelompok tani yang cukup menarik bahwa Pemerintah Desa kalau bisa menyediakan sedikit lahannya untuk memulai tani organik,” bebernya.

Untuk diketahui Kecamatan Purwoasri merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kediri dengan hamparan sawah yang paling besar. Daerah ini menjadi lokasi dimulainya tani organik melalui program DITO dengan cakupan luas lahan 11,4 hektar. Mas Dhito berharap ke depan program itu dapat berjalan di wilayah lain.

“Saya mengimbau kepada seluruh petani yang ada di Kabupaten Kediri agar mulai berpikir untuk masuk ke dalam dunia tani organik,” tandasnya.

Sementara itu, Anang Widodo Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri menambahkan, output program DITO pertama menghasilkan produk yang murni organik yang bisa di manajemen dari hulu sampai hilir dan tersertifikasi.

Kedua bagaimana program DITO  bisa mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia. Dalam hal ini, konsep yang telah dijalankan yakni pengurangan pupuk kimia antara 30 sampai 50 persen.

“Kami berharap dengan program DITO untuk pengurangan pupuk kimia ini, teman-teman petani bisa lebih mandiri. Itu salah satu tujuan utamanya bagaimana kemandirian bisa tercapai,” tambahnya.

Jumlah produksi dari penerapan tani organik dari hasil pengujian minimal sama dengan tani konvensional, bahkan lebih. Untuk memperluas program DITO, pada tahun 2022 ini di tiap kecamatan akan dibuat demplot atau lahan percontohan dan sekolah lapang yang bisa dijadikan tempat belajar petani untuk bertani organik. (Kominfo/Har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *