Satu fenomena lain yang saya amati adalah langkah Menteri BUMN Erick Thohir melakukan restrukturisasi anak perusahaan BUMN melalui merger, konsolidasi, akuisisi. Ada tendensi ke arah pelepasan BUMN ke pasar (bursa, via pasar tunai, sekunder, nego). Ada standing buyer di situ, ada volatilitas harga di situ, ada proteksi kebijakan di situ… Bisnis lagi!
Rencana IPO Mitratel (anak BUMN Telkom) satu contoh saja.
Mengapa anak BUMN menjadi sasaran empuk permainan? Karena ada landasan hukumnya: Surat Edaran MA No. 10 Tahun 2020 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Tahun 2020 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan tertanggal 18 Desember 2020.
“Kerugian yang timbul pada anak perusahaan BUMN/BUMD yang modalnya bukan bersumber dari APBN/APBD atau bukan penyertaan modal dari BUMN/BUMD dan tidak menerima/menggunakan fasilitas negara, bukan termasuk kerugian negara.”
Permainan pun berlangsung melalui anak perusahaan BUMN. Telkomsel (anak BUMN Telkom) menyuntik Rp6,4 triliun Gojek, yang komisaris utamanya Boy Thohir; Rekind (anak BUMN Pupuk Indonesia) berbisnis dengan PT Panca Amara Utama (PAU) dalam proyek pabrik amonia Banggai, yang komisarisnya juga Boy Thohir.
Terbaru, merger di Pelindo yang mengintegrasikan seluruh bisnis peti kemas sehingga menjadikan bisnis peti kemas menjadi anak perusahaan. Ini sudah diincar sejak 2017. Ada PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk. (PORT) yang 74,1% sahamnya dikuasai PT Episenta Utama Investasi. Episenta dikendalikan oleh Boy Thohir juga. “Nanti kan bisa bersinergi dengan Pelindo,” kata Boy Thohir (9/2/2017) dikutip CNN Indonesia.
Nanti akan ada restrukturisasi lagi—saya prediksi—di Angkasa Pura. Lagi-lagi, bisa ditebak arahnya. Sudah ada paket Astra Digital di bisnis digitalisasi bandara.
Bukankah di setiap periode pemerintahan juga memperlakukan BUMN seperti itu?
Ya, betul. Tapi semua pemimpin lalu sudah terima ganjaran dan hukumannya pula: diturunkan oleh rakyat, tidak dikenang sama sekali sebagai pemimpin bermutu, penyokong politiknya dipenjara, keluarganya dikucilkan…
Masalahnya, Jokowi belum. Justru ia masih dianggap sebagai pemimpin yang sederhana dan merakyat. Padahal, di lapangan, permainan busuk masih terjadi seperti biasa saja.
Dalam analisisnya, Ben mewawancarai seorang penyokong Jokowi yang berkata kekuatan terbesar Jokowi adalah “people keep underestimating him”.
Ya, dengan segala fakta yang saya paparkan di atas, masyarakat setidaknya bisa mulai membalikkan persepsi dengan meruntuhkan premis si penyokong tadi.
Jokowi memang layak dicurigai dan dipicingkan sebelah mata sebab model kepemimpinan dan pilihannya dalam distribusi sumber daya kekuasaan memang buruk dan tidak berkeadilan.
*Itulah mengapa ia selalu berada di bawah standar!*
Salam.
