“Degradasi moral saat ini tidak terasa, dulu kalau ada anak perempuan pulang jam 10 malam itu pasti jadi gunjingan tetangga, namun tidak saat ini,” sampainya.
Oleh karenanya Gus Muhdlor meminta acara ruwah desa seperti ini dapat terus dilakukan. Anak-anak muda perlu dilibatkan. Jangan sampai hanya didominasi oleh orang tua. Ia yakin bila ruwah desa seperti ini tetap terjaga, keberkahan akan sampai pada desa dan masyarakatnya.
“Acara seperti ini harus terus diramaikan, kalau desanya banyak yang mendoakan, masyarakatnya banyak yang berdoa bagi desanya, Insha Allah desa ini akan aman, keberkahan akan hadir didesa ini dan juga hadir kepada masyarakatnya,”sampainya.
Dalam kesempatan tersebut Gus Muhdlor bangga dengan para pelaku UMKM Desa Singkalan. Produk yang ditampilkan dalam ruwah desa tersebut sangat bervariatif. Ada 16 RT yang mampu membuat berbagai produk olahan makanan dan minuman.
Kebanggaan itu juga karena program Kurma (Kartu Usaha Perempuan Mandiri) dapat diakses dengan baik oleh Desa Singkalan. Bantuan permodalan bagi kelompok usaha perempuan itu betul-betul dimanfaatkan dengan baik. Benar-benar dikelola untuk berusaha. Itu dibuktikan dengan berbagai produk UMKM yang dihasilkan dari program Kurma.
“Bantuan permodalan dari program Kurma disini berjalan dengan baik, terlihat berbagai display produk dari usaha perempuan mandiri di desa ini, itu hasil modal awal yang kita berikan melalui program Kurma,” ujarnya usai melihat satu persatu produk UMKM usaha perempuan mandiri Desa Singkalan.
Dalam kesempatan itu, Gus Muhdlor juga menyerahkan bantuan Sembako dari Baznas Sidoarjo kepada kaum dhuafa. (Haris )
